Melihat Kematian


Beberapa manusia terlahir dengan kemampuan yang berada di luar nalar. Mereka yang memiliki kemampuan khusus tertentu itu terkadang menyembunyikan kemampuan yang mereka miliki dari orang lain, namun beberapa lainnya memanfaatkan kemampuan mereka untuk mendapatkan sebuah eksistensi.

Aku adalah salah satu dari golongan orang-orang yang memiliki kemampuan khusus itu. Berbeda dengan mereka, kemampuan yang kumiliki timbul karena kesepakatan konyol yang telah kulakukan.

Sekitar dua bulan yang lalu, aku dan beberapa orang teman mengunjungi sebuah kuil yang sudah tak terjamah di tengah hutan, saat itu kami sedang beristirahat di sana setelah melakukan pendakian di Gunung. Salah seorang temanku yang mempunyai rasa keingintahuan tinggi, mengajak aku dan lainnya untuk memeriksa bagian dalam kuil. Awalnya kami menolak namun akhirnya kami menurutinya setelah ia memaksa untuk mengajak kami masuk ke dalam.

Keadaan di dalam kuil tidak begitu mengerikan, hanya sedikit kumuh dan berbau tidak sedap. Kami menelusuri satu demi satu ruangan di dalam kuil tersebut hingga kami sampai pada ruangan tengah. Ruangan itu cukup besar dan dekelilingi oleh beberapa patung berwujud manusia. Di antara patung-patung tersebut terdapat sebuah patung yang sangat besar, di tangannya terdapat sejenis lempengan besi berwarna keemasan. Aku dan teman-temanku berjalan mendekati patung tersebut dan kami menemukan sebuah buku tergeletak di atas lempengan emas itu.

Buku itu tidak tebal namun juga tidak begitu tipis, tulisan di dalamnya pun menggunakan tulisan kuno. Aku tidak mengerti apa yang dituliskan dalam buku itu tapi salah seorang temanku bernama Robi mengerti dan menerjemahkannya kepada kami. Awalnya kami tertawa mendengar penjelasannya

“Hal semustahil itu tidak mungkin ada di dunia nyata” jawab temanku yang lainnya

Robi terlihat kesal lalu ia membaca sebuah kalimat yang katanya merupakan sebuah mantra agar manusia yang masih hidup dapat melihat kematian.

“Baiklah siapa yang berani mengulanginya sebanyak tiga kali kalimat yang sudah kuucapkan, akan kuberikan uang jajanku seminggu penuh” ucap Robi menantang kami.

Bisa dibilang Robi adalah temanku yang paling pelit, mendengarnya bertaruh seperti itu membuat teman-temanku yang lain mempercayai ucapannya tapi tidak denganku. Aku mengulurkan tangan kananku dan menjabat tangan Robi, “Oke Deal! Kalian semua saksinya ya?” ucapku sumringah.

***
Tiga hari telah berlalu sejak kajian di kuil itu, aku mulai merasakan hal-hal aneh, mendengar suara-suara yang selalu hilang ketika kucari dan hari itu pun datang. Sore itu aku bertemu dengan teman-temanku. Robi bertanya padaku apakah sesuatu hal telah terjadi dan saat aku hendak menjawabnya, tiba-tiba pandanganku terfokus pada kedua bola matanya, semua menjadi gelap dan hening, semakin dalam padanganku membawaku, aku dapat melihat secercah cahaya dan sebuah gambar yang dengan perlahan menjadi semakin jelas, itu adalah Robi, ia mengendarai motornya dengan sangat kencang dan sebuah truk terparkir tak jauh di hadapanya, Robi tak bisa mengurangi kecepatan motornya dan menghantam truk tersebut hingga badannya terpental dan mendarat pada aspal dengan kepalanya yang pecah bersimbah darah.

“Hei Rian, kau baik-baik saja?”

Pandanganku kembali, Robi masih duduk di hadapanku dengan temanku yang lainnya.

“Aku baik, hei Rob berhati-hatilah sepulang nanti, jangan mengendarai motormu terlalu kencang” ucapku

Robi dan teman-temanku terlihat kebingungan dengan ucapanku, dan sepertinya Robi menyadari suatu hal di balik ucapanku. Wajah Robi terlihat memucat dan perlahan ia berkata “A...apa kau melihat kematianku?”. Aku mengangguk, mereka semua menjadi terdiam dan saling menatap.

Kami semua memutuskan untuk pulang bersama mendampingi Robi. Kami berkendara dengan sangat hati-hati dan perlahan, beberapa kendaran terdengar kesal dan membunyikan sirine mereka untuk menegur kami, namun kami lebih takut kematian Robi ketimbang wajah marah dan cacian kotor mereka.

Saat kami sampai di sebuah perempatan jalan, aku melihat truk itu, truk yang menjadi bagian dari kematian Robi. Aku berteriak dan memperingati Robi, Robi pun seketika menghentikan laju motornya namun sebuah Van hitam melaju dari arah belakang dan menghantan motor Robi, motor yang dikendarai Robi terdorong keras hingga menabrak bagian depan truk yang terparkir di hadapannya dan tubuh Robi terpental seperti dalam penglihatanku sebelumnya.

Para pejalan kaki dan pengendara yang berada di lokasi pun histeris dan berhamburan mendekati tubuh Robi yang sudah tak sadarkan diri. Aku dan semua temanku berlari meninggalkan kendaraan kami untuk memeriksa keadaan Robi, Robi telah tewas dan semua temanku menatapku dengan tatapan yang sangat dingin. Aku tak sanggup menyaksikan jasad Robi, “Apa yang terjadi? Aku tak melihat Van hitam itu dalam penglihatanku sebelumnya.” Pikirku, tubuhku perlahan menjauh akibat rasa bersalahku pada Robi dan sebuah hantaman keras kurasakan menyentuh tubuhku.

***
Saat kembali dari rumah sakit akibat kecelakaan yang kualami, aku berusaha memperbaiki hubunganku dengan semua temanku, aku menghampiri tempat yang biasa kami datangi untuk menghabiskan malam, namun sepertinya mereka sangat membenciku dan bahkan mengabaikanku. Aku selalu berusaha menyapa dan ikut berkumpul dengan mereka namun semua tetap sama, mereka tetap mengabaikanku seolah kematian Robi sepenuhnya merupakan perbuatanku.

Mereka harusnya tahu bahwa aku pun merasa kehilangan dan aku merasa sangat bersalah. Harusnya mereka mengerti dan tidak menjauhiku seperti ini, bahkan kematian Robi membuatku takut untuk melihat pantulan diriku, aku takut jika tanpa sengaja aku melihatnya maka gambaran akan kematianku akan muncul dan menghantuiku namun bahkan apa yang mereka lakukan kepadaku saat ini membuatku merasa bahwa aku telah menemukan kematianku itu.

Aku mulai mengurung diri di kamar sepanjang waktu, tidak bertemu dengan siapapun termasuk keluargaku, mereka pula tidak menghiraukan keberadaanku, tidak bertanya apa yang terjadi kepadaku. Sejak kejadian itu, duniaku benar-benar berubah. Aku mulai membenci kehidupanku yang menyedihkan ini, aku keilangan teman dan keluargaku karena kemampuan menakutkan yang kumiliki. Kemampuan ini membuatku merasa kesepian dan kehilangan.

***

Aku memutuskan untuk mengakhirinya hari ini, aku akan menjemput kematianku. Dengan tekad yang sudah bulat, aku berjalan menuju kamar mandi, memantapkan niatku untuk menatap pantulan wajahku agar aku dapat mengetahui bagaimana aku akan mati nanti. Kuhirup nafas dalam-dalam dan mengangkat kepalaku, perlahan kubuka kedua mataku yang masih ragu dengan keinginanku, namun berkali-kali aku membuka mataku, aku tetap tak dapat melihatnya, aku tak dapat melihat kematianku itu dan juga tak melihat pantulan diriku pada cermin di hadapanku itu.

Tamat